Saya begitu menyadari bahwa hidup ini begitu singkat untuk dijalani tanpa berbuat sesuatu yang bisa membanggakan orang lain. Saya tahu apa yang saya jalani ini demi menyenangkan mamah dan ayah saya. Walaupun terkadang saya lelah dan ingin kembali menjalani rutinitas yang saya sukai. Tapi kembali lagi, dalam hidup pasti ada hal yang harus diperjuangkan dan juga dikorbankan. Kalau saya egois mungkin saya sudah keluar dari kerjaan ini. Rasa jenuh, bosan, suntuk, semua bercampur jadi satu tanpa pernah hilang dari otak saya. Namun, rasa tanggung jawab yg begitu besar yang harus saya pikul membuat saya pelan-pelan belajar mencintai pekerjaan saya. Terkadang saya iri melihat anak-anak seusia saya yang bebas menjalani hari-harinya tanpa aturan. Free of mind, free of responsible, free of time. Ya, saya suka melihat mereka menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berkumpul hang out or something with their friends.. and actually saya kadang iri.
Mamah yang membuat saya sekuat ini. Sanggup menjalani rutinitas yang 'tidak biasa' menjadi biasa. Melihat segala sesuatunya secara dewasa. Sepintas saya mungkin terlihat 'normal' . Tapi justru yang saya jalani melebihi batas normal anak-anak pada umumnya. Saya tahu bahwa tidak ada manusia di dunia ini yang hidup tanpa masalah, begitu juga saya. Ketika saya melamun, bengong, diam, malas berbuat sesuatu saya selalu berpikir dalam hati saya "boleh gak sih kalo gue ngeluh? gue capek Tuhan...". Pikiran seperti itu yang juga mengesankan kalo selama ini saya masih belum bisa ikhlas ngejalanin segalanya. Perhaps, but.. everyone has a moment when they feel so tired of everything dan itu wajar kan? Ketika harus jauh dari orangtua justru membuat rasa lelah itu makin terasa lebih berat di punggung saya, sampai saya tidak tahu harus mengeluh kemana, ke siapa. Berlebihan atau tidak ya memang itu rasanya saat ini.
Setiap saya di rumah, semakin hari semakin 'lain' rasanya berada di sana. Saya memperhatikan wajah mamah dan ayah kalau mereka sudah tidur. Tampak jelas wajah letih di wajah mamah, ayah. Tidak terasa air mata saya kadang keluar begitu saja menangisi bahwa saya sadar saya belum bisa berbuat banyak untuk mereka. Dalam shalat saya selalu memohon "Tuhan, tolong sehatkan mereka, panjangkan umurnya sampai saya bisa membahagiakan mereka....". Rasanya udah nggak ada lagi orang yang bisa membuat saya mau berjuang selain mereka. Saya sangat sayang mereka. Walau saya suka mengumpat kesal, tapi dalam hati saya, saya sangat mencintai mamah dan ayah. Seberapa bencinya pun saya sama ayah dulu, malah kadang masih terlintas rasa sakit hati kalau ingat apa yang udah ayah perbuat. Namun saat ini saya sudah bisa berpikir dewasa bahwa semua yang beliau lakukan pasti ada alasannya. Mamah. Saya juga nggak bisa mentah-mentah menyalahkan mamah atas apa yang pernah mamah lakukan. Someone told me, "tugas kamu sekarang adalah mencintai menyayangi mereka. Biarkan problem itu menjadi permasalahan mereka berdua".
He opened my mind, thank's for hearing...