20 April 2011

Aku ini hampir mati oleh mimpi. Awalnya hanya berlalu namun kian kemari menari di depan mataku. Aku sebut itu luka. Luka hebat oleh kekasih terhebat. Aku lalu tersungkur dalam mimpi itu. Aku tak melihat siapapun kecuali bayangan diriku sendiri di depanku. Aku ingin meraihnya walau aku tahu itu tak kan mungkin. Tanganku terlalu kecil untuk menjangkaunya. Bayanganku meninggalkanku sambil tersenyum. Sedangkan aku masih terduduk di atas tanah yang berdarah oleh luka yang terukir da hatiku. Aku memanggilmu tidakkah kamu dengar aku?

Aku coba bangunkan diriku dari mimpi ini. Tapi aku tak menemukan jalan keluar. Aku terus saja melalui jalan sempit yang aku tak pernah suka suasananya. Kanan kiriku gelap. Aku tak bisa memegang siapa-siapa aku juga tak bisa melihat siapa-siapa. Dimana aku? Aku mencarimu tidakkah kamu merasakan aku?

Nafasku makin tertatih. Aku terus saja melihat dalam kegelapan, susah sekali. Cahayaku mati. Aku terperangkap dalam kegelapan. Aku seperti buta. Menelan air dari tetesan yang aku tidak tahu jatuh darimana. Aku haus, kalu harus sendiri menyusuri kegelapan ini. Aku kedinginan. Tapi tak satupun mampu menghangatkan aku. Aku ingin memelukmu tidakkah kamu bisa berikan itu?

Tuha, hamba hanya seorang gadis tak berhati mulia yang belajar bangkit demi hati yang mulia. Tuntun aku, genggam tanganku aku tak sanggup sendiri menahan perih. Terlalu perih dan baru sekali ku alami, Engkau tentu sayang padaku. Biarkan aku menemui penopangku, beri aku waktu Tuhan..

13 April 2011

Kuceritakan siapa "aku"

Aku adalah si pencerita, wujudku ingredient. Aku muncul bersama mereka yang penuh kekecewaan, kesakitan dan kebahagiaan. Kalau mau mebuat sebuah kue yang lezat itu harus ada aku. Bukan, aku bukan tepung, bukan gula, mentega atau telur. Aku adalah abadi, bisa berpindah tempat dan tidak bisa dimusnahkan. Aku diikutsertakan dalam diri manusia.

Aku tidak bisa dibeli, tidak terdapat dimanapun. Aku bisa menyaksikan sepasang kekasih saling berlarian berkejaran, meraih satu sama lain walau tak mungkin dapat diraih. Aku ada bersama mereka. Aku yang tulus dari dalam diri mereka. Tak perlu biaya untuk mendapatkan aku! Siapa aku? Nanti akan kuceritakan..

Aku senang ada di sini. Cahaya biru pagi yang cerah. Ah, kurasakan kedatanganku yang kuat. Keluar dengan sempurna. Laki-laki itu tidak melihatku. Tapi aku melihat apa yang ia lakukan. Merangkul kekasihnya masuk ke dalam mobil sambil menutup pelan pintu lalu mereka menikmati udara sejuk dalam mobil. Ah, aku tak perlu keluar untuk saat ini.

Di tempat lain, sang ibu berkata pada anaknya bahwa ia tak lapar. Perjalanannya yg jauh cukup menunda laparnya dengan sebotol air putih yang tak juga dingin. Lalu ia masuk ke dapur dan menuangkan nasi yang sejak pagi ia simpan dalam tas lusuhnya, enggan ia telan ketika wajah sang putra satu-satunya mengukir dalam langkahnya. Ah, aku ada bersamanya! Aku ada dengan ketulusan..

Hari ini, aku melihat sesosok wanita menundukkan kepalanya. Aku lihat ia begitu putus asa dan kekecewaan. Aku tahu, ia pasti baru saja disakiti atau kehilangankah? Ah, aku tak kuat merasakan gejolak dalam dadanya. Aku terbawa dalam isaknya, aku keluar tanpa henti.

Pagi itu, aku menyaksikan kebahagiaan sang Ayah melepas putri kecilnya dengan gaun yang amat indah. Sempurna, aku turut dalam kebahagiaan sang ayah. Sambil memeluk erat gadis kecilnya yang akan pergi dengan lelaki yang kelak akan jadi seperti dirinya. Ayah bangga, haru dan bahagia. Namun ada kecemasan yang melintas dalam senyumnya, ah..aku ikut di dalamnya..

Sekarang kau tahu siapa aku?
Aku adalah sebuah cairan yang tercampur dengan senyawa perasaan dan emosional.
Aku mampu hadir tanpa diminta, aku juga tak marah bila dihapuskan begitu saja.
Mungkin kau sering menganggapku tak penting sama sekali, iya kan?
Sekarang aku beritahu,
Aku adalah keringat..
Aku adalah air mata..