27 April 2010

Selamat Pagi Dunia!

Ahh, beberapa jam yang lalu gue membuka mata. Seperti biasanya, gue lantas membuka jendela kamar dan membiarkan dinginnya udara masuk melalui sela-sela jendela kamar. "Hmmm..." (gue nikmati sebentar sejuknya pagi), sambil menatap bunga mawar putih yang sengaja ditanam tepat di depan jendela kamar gue. So, setiap gue buka jendela mata gue pasti langsung tertuju ke bunga mawar putih itu! Gue lihat matahari begitu cerahnya, terasa hangat kala perlahan sinarnya menembus kulit wajah gue yang masih 'jelek'. Setelah merapikan wajah dan rambut, gue sempet melirik dari pintu kamar ke meja makan, dan seperti biasa sudah tersaji segelas teh hangat buatan mamah dan telur dadar khas buatan ayah, untuk gue sarapan. "Ah Tuhaan, pagiMu selalu indah! Mengapa banyak orang yang lupa mensyukuri nikmatMu setiap pagi? Mereka lupa, Engkaulah yang membuat mereka masih bisa terbangun pagi ini!"
Bau tanah yang khas disertai percikan embun yang telah berubah menjadi air di pucuk daun-daun yang selalu tampak segar dan menggoda, enggan membuat gue beranjak dari jendela kamar. Sadar atau tidak, dari segi empat berkaca dan disangga dengan kayu ini gue banyak menyaksikan kehidupan setiap pagi. Tentunya dengan cerita 'mereka' masing-masing. Ya, cerita baru atau..ah mungkin juga cerita yang itu-itu saja yang harus mereka lewati pagi ini!
"Bbrmmm..brrmmm..brrmmm..", belum seberapa matahari menjauh dari pagi ini, sudah terdengar knalpot motor yang suaranya sangat menyebalkan (baca: berisik kaya kaleng rombeng). "Hei! Apa elo gak bisa tau, ini masih pagi, bung! Jangan gaduhlah, kalau mau lewat!". Rasanya ingin gue mengumpat ketus. Tapi lagi-lagi hanya dalam hati. Itu cerita pertama dari si pengendara motor. Pria itu pasti sudah harus mengemban tanggung jawab 'sepagi' ini. Apakah ia punya istri dan anak? Keluarga? Berangkat di pagi buta, kala hampir semua orang masih bermain dengan selimutnya menikmati semilir angin dari kipas atau AC! Kalian pikir ini mudah? Mungkin, baru semalam jam 12 ia pulang, atau mungkin sebelum malam ia pulang, mungkin ia harus pagi-pagi sekali bangun dan mengerjakan pekerjaan yang semestinya dilakukan oleh orang yang benar-benar sudah 'sadar' dari tidur panjangnya? Ahh..Semoga pria itu diberikan rizki yang halal dalam perjalanannya.
Ahh, pagar-pagar rumah mulai bergantian terbuka dan tertutup. Sambil mengucap salam pada keluarga, mengecup tangan suami, berpelukan dengan anak-anak tercinta, melambaikan tangan kepada sang istri, mereka berangkat bersama-sama untuk mencari uang. Kelak untuk anaknya sekolah, untuk makan sehari-hari, untuk biaya berobat sang suami/istri yang mulai sakit-sakitan, atau..seperti ibuku yang harus membayar hutang-hutang ayah. Keras sekali hidup ini! Mereka semua melawan lelahnya hanya untuk membahagiakan orang-orang tercinta. Mereka bangun pagi hanya untuk itu! "Tuhaan, berikan kebahagiaan yang tiada tara untuk para orangtua itu.."
"Yuur, sayuuuuuur...!", ah si tukang sayur itu memang rajin melewati komplek ini (baca: rumah gue). Yap! Tukang sayur itu namanya Lek Condro. Betapa bersyukurnya keluarga kami memiliki dia. Lek Condro tidak pernah membiarkan keluarga kami kelaparan (baca: tidak belanja). Biasanya, kalau mamah lagi 'gak punya uang beliau pasti 'gak akan belanja. But, guess what? "Udah, ambil aja dulu bu. Saya kan sering kesini, gausah mikirin bayar dulu, bu! Yang penting keluarga bisa makan..!". Lek Condro selalu berkata seperti itu ke mamah! Bayangkan, gue sendiri 'gak tega dong? Ya gue ambillah air dingin sebotol besar dari kulkas untuk dia bawa. Mungkin dia akan haus diperjalanan nanti. Rasa terimakasih selalu terucap dari keluarga kami. "Ya Tuhan, berkahilah ia dengan nikmatmu, panjangkan umurnya agar kami bisa membalas kebaikannya kelak!".
Ahh, matahari terus bergulir menjauhi pagiku. Semakin banyak aktivitas yang ada. Para istri yang tidak bekerja mulai menjemur satu demi satu pakaian sang suami, dan baju-baju kecilnya (ah, itu pasti milik bayi mungilnya). Ada juga yang mulai membonceng anaknya ke sekolah dengan sepeda atau motor. Ada juga yang sibuk bebenah rumah sementara membiarkan anaknya bermain dan sarapan dengan pembantunya. Tukang roti pun tak kalah hebohnya ketika melintasi setiap gang di komplek ini. Berharap banyak 'orang rumah tangga' yang memanggilnya atau sekedar menepuk tangan isyarat untuk menghampiri si 'empunya', dan yaaa tentunya untuk membeli rotinya! Untuk mereka yang tidak 'doyan' nasi kalau sarapan, untuk bekal anak-anak ke sekolah, atau bisa juga hanya sebagai pajangan saja yang dibeli untuk dimakan kalau lagi mau saja alias iseng-iseng ngemil.
Aaahh cerita pagi selalu saja penuh makna. Semua yang mereka lakukan tentu untuk orang-orang tercinta. Berjuang melawan waktu, tanpa terpikir untuk istirahat.

Hanya saja, apakah mereka sudah bersyukur pagi ini?

15 April 2010

you always missing my smile..

I ever heard "i miss your smile baby, how much i crazy to see your smile. Please, smile.."

If only i can always smiling brightly, oh.. I don't know what happened to me at last time, i just can't stay without you hold here, you know well babe!

So, please just stay with me for my every difficulty way? I promise, it will be the sweetest than you ever see..

=)

09 April 2010

.. DUA ..

Entah berapa langkah yang telah aku tempuh aku tak pernah menghitungnya
Hanya, jejak itu tak hanya sepasang melainkan DUA pasang..

Hempasan angin, debu, terik matahari, hujan, tak lagi terasa menjadi benda asing mereka selalu menyapaku setiap kali aku melintas diatas roda DUA..

Aku tak pernah tau, bagaimana langit akan berwarna esok ketika aku bangun dari cerita bersambung mimpiku,
DUA mataku akan selalu menatap kesana bersama matamu..

Ah, ternyata aku tidak sendiri ya! DUA tanganmu selalu sanggup menopang kerapuhan ragaku yang hampir bungkuk karena setiap harinya banyak menanggung "hadiah" Nya..

Suatu waktu, wajahku sembab tak menentu. Air mata ini membuat wajahku jelek! Namun, dengan lembutnya DUA bibir ini berpagut dalam kelemahan, membawa kedamaian sambil berkata "kamu tetap cantik"..