Aku ini hampir mati oleh mimpi. Awalnya hanya berlalu namun kian kemari menari di depan mataku. Aku sebut itu luka. Luka hebat oleh kekasih terhebat. Aku lalu tersungkur dalam mimpi itu. Aku tak melihat siapapun kecuali bayangan diriku sendiri di depanku. Aku ingin meraihnya walau aku tahu itu tak kan mungkin. Tanganku terlalu kecil untuk menjangkaunya. Bayanganku meninggalkanku sambil tersenyum. Sedangkan aku masih terduduk di atas tanah yang berdarah oleh luka yang terukir da hatiku. Aku memanggilmu tidakkah kamu dengar aku?
Aku coba bangunkan diriku dari mimpi ini. Tapi aku tak menemukan jalan keluar. Aku terus saja melalui jalan sempit yang aku tak pernah suka suasananya. Kanan kiriku gelap. Aku tak bisa memegang siapa-siapa aku juga tak bisa melihat siapa-siapa. Dimana aku? Aku mencarimu tidakkah kamu merasakan aku?
Nafasku makin tertatih. Aku terus saja melihat dalam kegelapan, susah sekali. Cahayaku mati. Aku terperangkap dalam kegelapan. Aku seperti buta. Menelan air dari tetesan yang aku tidak tahu jatuh darimana. Aku haus, kalu harus sendiri menyusuri kegelapan ini. Aku kedinginan. Tapi tak satupun mampu menghangatkan aku. Aku ingin memelukmu tidakkah kamu bisa berikan itu?
Tuha, hamba hanya seorang gadis tak berhati mulia yang belajar bangkit demi hati yang mulia. Tuntun aku, genggam tanganku aku tak sanggup sendiri menahan perih. Terlalu perih dan baru sekali ku alami, Engkau tentu sayang padaku. Biarkan aku menemui penopangku, beri aku waktu Tuhan..
No comments:
Post a Comment