30 May 2010

Aku dan Daun

Sebuah daun yang nampak kuning jatuh tepat di ujung hidungku. Kuambil dan kusentuh, kurasakan guratan ruas-ruasnya, kuremukkan dalam genggamanku, kubuka perlahan dan hancur. Melebur diterpa angin, perlahan terserak di atas tanah. Lalu menerpalah kepulan angin yang lebih kencang membawa serpihan daun yang telah terserak tak beraturan. Hilang..

Mungkin saja aku seperti daun itu. Lama berdiri di atas ranting, kokoh atau lemah aku tak perduli. Hal terpenting adalah, aku bisa menggantungkan tangkaiku yang lemah pada ranting yang kuanggap bagianku lebih lama lagi. Tiba-tiba aku melihat angin besar meniup ke arahku. Ah! Tidak! Aku harus merapatkan tangkaiku lebih kuat. Aku tak mau terhempas sia-sia! Oh, oh.. Apa ini dibawahku? Tangkai lagi? Tangkai siapa ini? Kulihat setangkai lainnya menopangku. Mungkin dia berpikir aku hampir saja jatuh, terinjak, dan...hancur!

Dia menyelamatkanku, dia membantuku tak jatuh. Ah, alangkah beruntungnya aku. Terimakasih, ucapku. Sejak saat itu, dia selalu berada tepat dibawahku. Menjadi pijakanku agar aku tak menggantung begitu jauh dari tapakanku. Seringkali aku menapakkan pucuk daunku di tangkainya, dia tak menolak, dia justru memberikan tangkainya untukku! Aaah, sudah lama aku tak merasa senyaman ini. Aku tentu senang dan gembira. Aku tak sendiri!

Aku harap dia tak menggeser tangkainya, agar aku tetap dekat dan mampu bertahan disaat angin tak bersahabat denganku.

No comments:

Post a Comment